Minggu, Januari 23, 2022

Lahirnya Jurnalisme Kurasi di Era Digital

$rows[judul]

Oleh Andri Nugraha



Sejak berkembangnya teknologi yang melahirkan internet sekitar tahun 2010-an, dari sanalah jurnalisme mengalami pergeseran. Media yang identik dengan mencari informasi di lapangan, kini dengan hanya mengandalkan media digital sudah bisa membuat suatu berita. Tidak hanya itu, proses rapat redaksi yang menjadi forum tertinggi di media massa, kini juga mulai bergeser. Peran editor dalam melakukan koreksi berita mulai tergantikan oleh adanya robot.

Populernya internet di masyarakat membuat media harus menyesuaikan diri, mengikuti arus informasi di internet jika tidak ingin kehilangan para pembacanya. Namun sayangya tidak semua informasi di internet bisa dipertanggung jawabkan. Pergerakan arus informasi di jagat dunia maya begitu cepat dan dinamis tidak lagi dalam hitungan hari atau jam, namun detik. 

Beragamnya informasi mengharuskan wartawan untuk secepat mungkin mengolah informasi jika tidak ingin ketinggalan informasi.

Metode Tambal-Sulam

Maka dari itu, peran wartawan dalam mengolah informasi harus memiliki keahlian khusus yang disebut kurasi. Suatu metode tambal-sulam mengumpulkan informasi di berbagai sumber untuk dijadikan suatu berita yang utuh. Josh Stenberg dalam artikelnya yang berjudul “Why Curation Is Important to the Future of Journalism”, kredibilitas kurator (orang yang melakukan kurasi) menjadi kunci bagi media yang menerapkan metode kurasi. Kurator harus memiliki keahlian menyaring informasi yang dianggap akurat dan kredibel untuk disajikan kembali kepada publik. Guallar & Levia Agueilera (2013) menghadirkan model Jurnalisme Kurasi yang disebut metode 4S. Suatu proses berurutan yang menggambarkan fase pembuatan kurasi konten yaitu: searching (mencari), selecting (memilih), sense making (memberi konteks untuk membuatnya masuk akal), dan sharing (berbagi). Mengutip artikel Kompas.com yang ditulis Dandi Supriadi, dari keempat proses tersebut pada fase berbagi menjadi hal paling penting dalam jurnalisme kurasi. Pada fase ini wartawan terlibat langsung melakukan dialog dengan audiens secara aktif  menggunakan komunikasi online.

Pola Prosumer

Semenjak booming nya media sosial, praktik kurasi sebenarnya sudah lama diterapkan meski kebanyakan wartawan belum mengenal istilah itu. Mereka sudah mempraktikan itu dengan mencari informasi dari warga di lapangan melalui perantara media sosial. Adanya peran warga di lapangan sebagai sumber informasi, menurut satu artikel di kompasiana.com, itu dapat disebut Pola Prosumer. Suatu pola di mana seseorang yang bukan wartawan, namun dengan mudah bisa membuat berita dan menyebarkannya. Bahkan orang tersebut dapat menjadi mendadak terkenal, atau bisa juga dibully tiba-tiba ketika berita tersebut menjadi viral di media sosial. Di tengah maraknya pola prosumer yang melahirkan isu-isu viral, tak jarang wartawan mengambil isu tersebut untuk dijadikan berita.

Verifikasi Sumber Informasi

Di samping mudahnya akses informasi di era digital saat ini, wartawan juga harus memperhatikan kredibilitas dan akurasi informasi yang didapat. Melakukan verifikasi data, check and re-check untuk menghindari informasi yang keliru atau hoax. 

Anggota Dewan Pers Arif Zulkifli mengatakan, praktik kutip-mengutip sumber informasi antarmedia bisa dibenarkan. Dengan catatan, sumber informasi harus disebutkan dengan jelas. Verifikasi dan validasi data sangat penting dilakukan untuk menghindari hoax serta supaya berita yang diterbitkan bisa dipertanggung jawabkan. 

Dalam hal ini, peran kurator hanya sebatas mengarahkan informasi, bukan mengklaim data dalam tulisan sebagai hasil pribadi. Ernie Smith, editor ShortFromBlog, kurator seperti pemandu wisata. Kurator hanya mengarahkan suatu berita supaya publik memahami isu tertentu. 

Dari banyaknya isu yang simpang-siur di media digital, seorang kurator berperan untuk mengubah kekacauan menjadi teratur. Mengemas kembali informasi di berbagai media dengan sajian yang lebih ringkas dan mudah dipahami. 

Menjunjung Tinggi Kaidah Jurnalistik

Adanya internet memudahkan peran wartawan dalam mencari dan mengolah informasi menjadi berita. Namun sudah selayaknya seorang wartawan untuk menjunjung tinggi kaidah jurnalistik. Metode kurasi sangat praktis digunakan di tengah persaingan antar media dalam memenangkan perlombaan siapa yang paling cepat. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media tidak terjebak oleh sebaran informasi dari akun-akun media sosial yang tidak akurat.

Seperti contoh kasus yang ramai diperbincangkan saat ini terkait kasus tersebarnya video asusila pasangan muda-mudi Garut di media Instagram. Berbagai media baik itu lokal maupun nasional serentak memberitakan isu tersebut dengan berbagai angle berita yang dapat menarik perhatian publik untuk “meng-klik”. Fenomena tersebut menjadi salah satu contoh bahwa aktivitas jurnalisme saat ini tidak hanya sebatas tentang kehidupan nyata, namun di dunia maya. 

Mengambil isu di media sosial untuk dijadikan suatu berita.

Harus diakui, media massa konvensional di Indonesia masih kalah bersaing dengan popularitas media sosial. Media konvensional mau tidak mau harus mengikuti perkembangan informasi di media sosial jika tidak ingin kehilangan pembaca. 

Tantangannya, media konvensional yang bertranformasi menjadi media online harus menerapkan kaidah jurnalistik. Jangan sampai terjebak dalam lemahnya akurasi informasi dari media sosial. Praktik kurasi secara ketat mesti dilakukan oleh para penulis maupun editor berita. 

Selain itu, literasi media penting juga dilakukan supaya pemberitaan media tidak sebatas mencari celah untuk menarik keuntungan semata, namun juga dapat mencerdaskan dan mencerahkan publik di tengah arus informasi dewasa ini yang sulit membedakan mana fakta dan mana hoax. (*)

Penulis Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)